Categories: Nasional

Diduga Negara Abai, Kepesertaan BPJS Warga Miskin Dinonaktifkan dan Dialihkan ke Mandiri

Karawang || Nusantaraposnews.com – Sejumlah warga mengeluhkan dinonaktifkannya kepesertaan BPJS Kesehatan yang sebelumnya mereka terima melalui skema bantuan pemerintah.

Kebijakan ini diduga mencerminkan semakin berkurangnya kepedulian negara terhadap masyarakat kecil, yang selama ini sangat bergantung pada jaminan kesehatan tersebut untuk bertahan hidup.

Berdasarkan keterangan yang diterima warga dari Call Center BPJS Kesehatan di nomor 165, kepesertaan yang dinonaktifkan akan dialihkan ke skema BPJS Mandiri.

Artinya, masyarakat yang sebelumnya ditanggung negara kini wajib membayar iuran secara mandiri.

Bagi sebagian kalangan, kebijakan ini mungkin terlihat administratif.

Namun bagi masyarakat kecil yang penghasilannya tidak menentu, kewajiban membayar iuran justru menjadi beban baru yang nyaris mustahil dipenuhi.

Dalam kondisi ekonomi yang sulit, langkah ini dinilai sebagai bentuk pemaksaan terselubung terhadap rakyat miskin untuk membayar layanan dasar yang seharusnya dijamin negara.

“Untuk makan saja kami susah, apalagi harus bayar BPJS setiap bulan,” ujar salah satu warga yang kepesertaannya dinonaktifkan.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: di mana keberpihakan negara terhadap rakyat kecil?

Padahal, jaminan kesehatan merupakan hak dasar warga negara sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi.

Lebih ironis lagi, kebijakan ini dinilai bertolak belakang dengan janji-janji politik para pemimpin negara, termasuk Presiden, yang pada masa pencalonan kerap menyatakan diri sebagai pemimpin pro rakyat kecil.

Namun dalam praktiknya, kebijakan yang dirasakan di lapangan justru dinilai menekan dan menindas masyarakat yang paling lemah secara ekonomi.

Masyarakat berharap pemerintah dan pihak BPJS Kesehatan segera memberikan penjelasan resmi, transparan, dan solusi yang berkeadilan, agar rakyat kecil tidak terus menjadi korban kebijakan yang dianggap tidak manusiawi.

Jika negara benar-benar hadir untuk rakyatnya, maka jaminan kesehatan seharusnya menjadi perlindungan, bukan alat tekanan.

Penulis : Madun

Redaksi NusantaraPostnews.com

Recent Posts

Negara Raup Rp433 Triliun dari Pahlawan Devisa, Namun Saat PMI Terlilit Masalah di Luar Negeri, Di Mana Kehadiran Negara?

JAKARTA – Pekerja Migran Indonesia (PMI) selama ini dikenal sebagai pahlawan devisa yang memberikan kontribusi…

4 hari ago

Aroma Kongkalikong di Balik Paspor PMI Sukabumi: Imigrasi Bobol atau Terafiliasi Sindikat?

TANGERANG, – Sebuah fakta mengejutkan terungkap dalam proses repatriasi Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sukabumi,…

4 hari ago

Air Mata Bahagia di Hari Raya: Erni Sari, PMI Asal Mauk yang Diduga Tereksploitasi di Tunisia Akhirnya Pulang

TANGERANG – Suasana haru menyelimuti Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Tepat pada perayaan Hari Raya…

7 hari ago

Diduga Kebal Hukum, PT Buana Riski dan KP2MI Disorot Usai PMI Mengaku Alami Perlakuan Tak Manusiawi di Timur Tengah

JAKARTA – Nasib memprihatinkan dialami seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Bandar Jaya berinisial…

1 minggu ago

Bandara Soekarno-Hatta Kecolongan? Nama Ida Terseret Dugaan Pemberangkatan PMI Ilegal ke Dubai

JAKARTA – Dugaan praktik penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) nonprosedural kembali mencuat. Seorang perempuan asal…

1 minggu ago

Diduga Pungut Biaya Berkedok Penilaian, SMPN 1 Cibuaya Jadi Sorotan Publik

Karawang — Transparansi pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMPN 1 Cibuaya kembali menjadi…

2 minggu ago