Bandung Barat | nusantarapostnews.com – Sosialisasi bansos di Desa Sirnaraja kecamatan Cipeundeuy Kabupaten Bandung Barat mendadak memanas setelah seorang warga mengungkapkan aduan serius terkait perubahan status penerima bantuan dalam keluarganya. Data keluarga yang sebelumnya aktif sebagai penerima, tiba-tiba terblokir (off), dan lebih mengejutkan lagi, dalam sistem desa tercatat sebagai meninggal dunia, padahal yang bersangkutan masih hidup.
Aduan itu disampaikan langsung di hadapan Kabid Dinsos Kabupaten Bandung Barat, Rijal, dan Pendamping PKH, Jaja, yang hadir dalam kegiatan sosialisasi. Sabtu 15 November 2025
“ijin pak Keluarga saya tadinya kan penerima aktif pak. Tapi saat dicek, statusnya off, dan bahkan tertulis meninggal di sistem desa. Padahal keluarga saya masih hidup,” ungkap warga tersebut di tengah forum sosialisasi.
Kabid Dinsos Rijal terpantau terkejut mendengar laporan itu. Menurutnya, data awal biasanya bersumber dari RT dan RW, sehingga perlu klarifikasi lebih lanjut.
“Data itukan biasanya masuk dari RT dan RW, jadi harus ditanyakan kembali kepada pihak yang memberikan informasi nya pak” ujar Rijal.

Dalam kesempatan berbeda saat dikonfirmasi awak media, Rijal menegaskan pihaknya akan menindaklanjuti dan mengevaluasi keseluruhan proses pendataan.
“Kami pasti evaluasi. Jika memang ada kesalahan atau manipulasi data, akan kami telusuri sesuai aturan,” tegasnya.
Pendamping PKH Jaja menanggapi cepat laporan tersebut. Ia menjelaskan sering terjadi perbedaan antara data di Disdukcapil dengan data yang muncul di sistem SIK-NG.
“Memang kadang ada dua data berbeda pak antara Disdukcapil dan SIK-NG. Kami sarankan warga melakukan pembaruan data agar sistem menyesuaikan informasi yang benar,” jelas Jaja.
Warga menduga kejanggalan terjadi karena status kematian itu hanya muncul di data desa, sedangkan di tingkat kecamatan informasi masih menunjukkan status hidup.
Warga mengatakan persoalan ini pertama kali terbongkar ketika dirinya melakukan proses pengecekan Karena curiga, ia mengecek ke operator SIK-NG Desa Sirnaraja.
“Operator desa memperlihatkan langsung datanya ke saya. Disituh tertulis meninggal. Padahal di kecamatan nama keluarga saya dinyatakan masih hidup,” ujar warga tersebut
Dalam forum yang sama, awak media turut menanyakan dugaan pemotongan bansos, yaitu potongan Rp150.000 per KPM serta Rp50.000 saat gesek di agen.
Saat menerima lima pertanyaan tersebut, Kabid Dinsos Rijal menunjukkan raut kecewa.
“Saya tidak mengetahui adanya pemotongan seperti itu. Yang saya tahu hanya ada miskomunikasi di lapangan. Tapi kalau benar ada potongan, uang itu wajib dikembalikan kepada KPM,” tegasnya.
Pendamping PKH Jaja juga memberikan bantahan tegas.
“Kami tidak pernah menginstruksikan pemotongan dalam bentuk apa pun. Itu tidak sesuai prosedur,” tegasnya.
Ia berharap proses penyaluran bansos ke depan lebih disiplin mengikuti regulasi pusat.
“Kami harap semua pihak lebih berhati-hati dan mengikuti aturan pemerintah pusat,” tambah Jaja.
Awak media berupaya meminta klarifikasi kepada Kepala Desa Sirnaraja, Kecamatan Cipeundeuy, Bandung Barat. Prihal data warga yang di statuskan meninggal tapi kenyataan nya masih hidup, Namun hingga berita ini diturunkan, pesan WhatsApp yang dikirimkan hanya berstatus centang satu. Belum diketahui apakah nomor diblokir atau ponsel dalam keadaan tidak aktif.
Reporter : Madun

